Menumbuhkan pengusaha muda untuk bangkit

Salah satu tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia adalah bagaimana menumbuhkan dan meningkatkan entrepreneurship. Mengingat jumlah entrepreneur yang masih dibawah standar minimal dua persen, sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat dikatakan ideal.

Muslimpreneur adalah aktor dalam kewirausahaan, memiliki tantangan yang luar biasa untuk menjadi entrepreneur sukses. Pada tingkat persaingan bisnis yang semakin ketat, muslimpreneur harus mampu menunjukkan jati dirinya dengan personality dan characteristic yang khas sebagai seorang muslim yang mampu menjalankan nilai-nilai keislamannya, juga menjadi modal dasar dalam aktivitas usahanya. Dengan pendekatan Knowladge Based Economy, seorang muslimpreneur harus berani melakukan perubahan.

Modal pengetahuan dan Kemauan

Melakukan perubahan dimulai dengan modal pengetahuan kemudian diimplementasikan dalam inovasi-inovasi. Baik dari aspek managerial function, business function, termasuk mengintegrasikannya dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.Secara lebih spesifik, jika jumlah entrepreneur  dilihat dari mayoritas agama penduduk di Indonesia. Islam adalah agama terbesar kedua di dunia setelah Kristen. Sedangkan Indonesia merupakan negara dengan populasi umat islam terbesar di dunia, mencapai 203 juta jiwa.

Jumlah yang besar ini seharusnya dapat menggambarkan jumlah  wirausahawan muslim (baca: muslimpreneur) yang besar pula. Apalagi kalau kita melihat berdasarkan fakta sejarah, masuknya Islam ke Indonesia melalui entrepreneur muslim dari Gujarat. Namun, dari 1.65 persen jumlah entrepreneur di Indonesia hanya sedikit entrepreneur dari kalangan umat islam,5 Jumlah yang tidak sebanding dengan populasi umat Islam. Inilah yang kemudian menjadi pertanyaan besar yang harus dijawab oleh umat islam. Kemana para pengusaha muslim Indonesia?